By Dedy Ahmadi on 10 Sep 2025

GERHANA BULAN, Atraksi Langit Untuk Menyadarkan Kita Tentang Kebesaran Allah

GERHANA BULAN, Atraksi Langit Untuk Menyadarkan Kita Tentang Kebesaran Allah

Opini - Dalam konteks spiritual, gerhana bulan total dapat menjadi momen untuk introspeksi dan tafakur tentang kebesaran Allah 'Azza wa Jalla.

Gerhana bulan total merupakan kejadian alam yang mengajak kita untuk menambahkan keimanan tentang kehebatan dan kekuasaan Allah Ta'ala, sebagai Pentabir seluruh alam, segala peredaran cakrawala, bumi, bulan, matahari, dan sejenisnya.

Allah Ta'ala mengabarkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Rasulullah Saw;

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal..."

(Ali Imran: 190)

Tafakur;

Apa yang yang terlintas di benak kita ketika disebut kata "ibadah?" Yang paling dominan akan menjawab shalat, puasa, zakat, haji, dan yang sejenisnya.

Tapi ada ibadah lain yang tak tampak oleh kasat mata namun bernilai tinggi. Ibadah apakah itu? *Berpikir atau tafakur.* Akal merupakan karunia terbesar dari Allah kepada manusia yang membedakannya dari makhluk lainnya.

Nyaris kemampuan fisik yang dimiliki manusia juga dimiliki binatang. Bahkan binatang bisa lebih hebat dari manusia dalam hal tertentu. Namun, sehebat apapun kapasitas binatang, ia tetap tidak akan mampu menciptakan peradaban agung karena tidak mempunyai akal.

Akal atau pikiran adalah kunci pembeda. Hilangnya fungsi akal pada diri manusia akan menurunkan derajatnya selevel binatang, bahkan lebih rendah lagi.

Al-Qur'an sendiri menyebut para ahli neraka yang tak mau menggunakan akal, mata, dan telinganya untuk merenungkan ayat-ayat Allah;

"Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."*

(Al-A'raf: 179)

Khalifah paling fenomenal, Umar bin Abdul Aziz, pernah menunjukkan;

"Bertafakur (berpikir) tentang nikmat Allah 'Azza wa Jalla, adalah termasuk ibadah-ibadah paling utama."

Ketika Abu Syuraih sedang berjalan, tiba-tiba ia duduk dan menyelimuti diri dengan jubahnya. Lalu, dia menangis. Ketika ditanya apa yang menyebabkannya menangis? Dia menjawab;

"Aku menafakuri kehilangan sebagian umurku, sedikitnya amalanku, dan semakin dekatnya ajalku."

Abu Sulaiman berkata;

"Tafakur di dunia adalah hijab (pembatas) dari akhirat yang mewariskan hikmah (kebijaksanaan) dan menghidupkan hati."

Imam Syafi'i berkata;

"Mohonlah pertolongan atas pembicaraanmu dengan diam, dan atas kesimpulanmu dengan tafakur."

Untuk itu, kata Imam Syafi'i, berpikirlah sebelum membulatkan tekad. Keutamaan itu ada empat;

Pertama,

Kebijaksanaan (hikmah), dan tiangnya adalah tafakur.

Kedua,

Kesucian diri, dan tiangnya adalah membuang keinginan rendah (syahwat).

Ketiga,

Kekuatan, dan tiangnya adalah menahan marah.

Keempat,

Al-Hal (pengalaman ruhaniyah), dan tiangnya adalah keseimbangan kekuatan-kekuatan nafsu.

(Imam Al-Ghazali; Mukasyafatul Qulub)

Selamat Beraktivitas,

Adakah yang sia-sia dari cipratan-Nya?

Oleh : JO


Scroll